Tarif Impor Naik 32 Persen, Begini Dampak Kebijakan Tarif Donald Trump

top-news

Kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diprediksi akan mengguncang  pasar Internasional. Kebijakan ini juga akan mengguncang Indonesia, yang akan dikenakan kenaikan tarif impor sebesar 32 persen oleh Trump.

Dilansir dari Kompas.com, Guru Besar di Fakultas Ekonomi & Manajemen IPB Bogor, Didin S Damanhuri memandang ada tujuh dampak yang akan dirasakan oleh Indonesia akibat tarif impor Donald Trump.

Pertama, Ia menilai bahwa nilai tukar rupiah terhadap AS akan meningkat drastis, diperkirakan mencapai 17.000 per dollar AS.

"Dua, akan banyak perusahaan besar melakukan PHK besar-besaran, mengingat dalam usahanya terhadap unsur dollar AS. Sehingga bisa terancam mempailitkan dirinya/bangkrut dan dalam waktu dekat mereka kemungkinan memilih PHK sebagai upaya rasionalisasi korporasi," ujar Didin lewat keterangan tertulisnya yang sudah dikonfirmasi, Sabtu (5/4/2025), dilansir dari Kompas.

Dua peristiwa tersebut bakal mempengaruhi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Penerimaan pajak juga akan semakin menurun, setelah sebelumnya telah anjlok sebesar 30 persen.

“Kemudian, terjadi turunnya daya beli masyarakat secara lebih massif lagi, yang kini pun sudah terjadi melemahnya daya beli masyarakat. Misal mudik baik jumlah orang maupun perputaran uang turun sekitar 24 persen," ujar Didin.

Penurunan ekonomi besar-besaran tersebut akan menimbulkan pesimisme kepada pemerintah, baik dari UMKM sampai pengusaha besar. Di sisi lain, kesulitan ekonomi bakal memicu tingkat kriminalitas yang sudah semakin meresahkan di Indonesia bakal sangat meningkat.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa paling lambat, Indonesia harus merespon kebijakan tarif tersebut 9 April 2025. Pemerintah memutuskan untuk menempuh usaha negosiasi dan diplomasi yang dapat menguntungkan kedua negara.

“Indonesia menyiapkan rencana aksi dengan memperhatikan beberapa hal, termasuk impor dan investasi dari Amerika Serikat," kata Airlangga dalam Rapat Koordinasi Terbatas Lanjutan terkait Kebijakan Tarif Resiprokal Amerika Serikat yang digelar secara virtual di Jakarta, Minggu (6/4/2025), seperti dikutip dari Antara.

Airlangga juga mengatakan bahwa pemerintah Indonesia sedang mempersiapkan langkah startegis untuk membuka pasar Eropa. Bagi Indonesia, Pasar Eropa merupakan pasar terbesar kedua setelah AS dan Cina.

"Ini juga bisa kita dorong, sehingga kita punya alternatif market yang lebih besar," ucap Airlangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *